Langsung ke konten utama

Postingan

Pau-Pau Rikadong

Konon kabarnya, pada suatu waktu ada seorang puteri raja di Luwu yang ditimpa penyakit kulit (masala uli). Dia anak tunggal lagi anappattola. Ayah-bundanya menjadi susah karena musibah yang puterinya. Berdatanganlah semua sanro dan tabib, tetapi jangankan ada perubahan dari penyakitnya malah hidung orang banyak tak tertahankan bau amis lagi pula lainnya bau busuknya. Dipersingkat kata, dipercepat cerita, maka berhimpunlah Adat Luwu bersama rakyat disebabkan orang di Luwu takut ditulari penyakit seperti itu. Dia hendak dibunuh tapi tidak boleh sebab dia adalah keluarga yang tak boleh didurhakai lagi pula maddara-takku’ , berdarah mulia. Oleh karena itu, amat susahlah orang di Luwu. Terjadilah pada suatu waktu, orang Luwu berhimpun, sampai di Palopo sana, berbatas di Baibunta sana, terdengar juga mereka yang di Bulu’ polo. Adapun yang disetujui bersama ialah sepakat untuk membawa diri mereka naik ke Mappajunge’ buat menghadapkan persetujuan yang telah disepakati oleh mereka yaitu ya...

Majas (Gaya Bahasa)

Majas adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan santun, dan menarik. Gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu: 1. Gaya bahasa perulangan 2. Gaya bahasa perbandingan 3. Gaya bahasa pertentangan 4. Gaya bahasa pertautan 1. Gaya Bahasa Perulangan A. Aliterasi Aliterasi ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi. Contoh: Kau keraskan kalbunya Bagai batu membesi benar Timbul telangkai bertongkat urat Ditunjang pengacara petah pasih B. Asonansi Asonansi ialah sejenis gaya bahasa refetisi yang berjudul perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa ...

Pengertian Lontara

Salah satu sumber budaya orang-orang Bugis ialah lontarak. Seseorang yang ingin mengenal watak dan karya-karya orang Bugis perlu lebih dahulu mempelajari dan memahami lontarak sebagai sumber asli, karena lontarak adalah pencerminan dari kehidupan orang Bugis. Dalam rangka pengenalan terhadap lontarak ini akan dikemukakan uraian-uraian tentang hal-hal sebagai berikut : A. Arti lontarak Dikalangan orang Bugis di Sulawesi Selatan terdapat bermacam-macam keterangan tentang arti lontarak, diantaranya ialah : 1. Kata lontarak berasal dari nama jenis pohon yang disebut pohon lontarak (pohon lontar). Daunnya disebut daun lontarak. Daun lontarak itu dahulu oleh orang-orang Bugis dijadikan sebagai alat tulis yaitu tempat mencatatkan semua peristiwa-peristiwa dan pandangan-pandangan penting yang pernah dialami dan dikemukakan oleh orang-orang Bugis. Jadi lontarak ialah catatan-catatan yang ditulis orang Bugis pada waktu yang telah lampau. 2. Lontarak ialah catatan-catatan yang ditulis di ...

Pappaseng Tomatoa

Eppai tenriulle parewe : Mula-mulanna ada pura ripassu'e ri timue Madduanna anu pura riabbereangnge, Mattellunna anu pura nakennae uki, Maeppana umuru' pura laloe De sia deceng pole ri saliweng... Kua manenni pole ritellu lappae Seuwani agi-agi mupogau' itai rimunrinna, Madduanna aja' mumacai tea/ripakainge', Maettellunna tettongiwi lempu'e mupakei sabbara'e Patampuangengngi nariseng tau maupe' : Seuwani pessu'i ada napasau, Madduanna matu ada nasitinaja, Mattellunna molai ada naparapi, Maeppana duppai ada napasau

Nilai-Nilai Kepribadian dalam ’Elong Ugi’

A. Pendahuluan Dalam masyarakat Bugis, khususnya ketika masih eksis kerajaan-kerajaan lokal (ethnic authority), mengenal dan menjadi bagian dari tradisi mereka berpantun atau bernyanyi yang bisa disampaikan dengan pernyataan lansung atau dengan pengiasan (‘lecco-lecco ada) yang unik biasa disebut dengan Elong, sekarang lebih populer dengan nama Elong Ugi. Keunikannya, terutama pada Elong Maliung Bettuanna, karena ungkapan yang disampaikan kadang kala berisi tebakan yang memerlukan interpretasi yang cukup terliti. Jadi kalau seseorang tidak mengetahui kuncinya maka tak akan dapat mengetahuinya. Pantun-pantun itu juga sangat digemari oleh para pemuda dan pemudi yang sedang jatuh cinta, karena dapat mengungkapkan isi hatinya di tengah-tengah orang banyak kepada orang yang dicintainya tapi orang banyak tidak memahaminya. Bisa pula dengan pantun itu, seseorang mengungkapkan kebenciannya, ketidak senangannya pada pada seseorang atau penguasa tapi tidak banyak orang yang bisa mengetahuinya....