Langsung ke konten utama

Pengertian Lontara


Salah satu sumber budaya orang-orang Bugis ialah lontarak. Seseorang yang ingin mengenal watak dan karya-karya orang Bugis perlu lebih dahulu mempelajari dan memahami lontarak sebagai sumber asli, karena lontarak adalah pencerminan dari kehidupan orang Bugis.
Dalam rangka pengenalan terhadap lontarak ini akan dikemukakan uraian-uraian tentang hal-hal sebagai berikut :
A. Arti lontarak
Dikalangan orang Bugis di Sulawesi Selatan terdapat bermacam-macam keterangan tentang arti lontarak, diantaranya ialah :
1. Kata lontarak berasal dari nama jenis pohon yang disebut pohon lontarak (pohon lontar). Daunnya disebut daun lontarak. Daun lontarak itu dahulu oleh orang-orang Bugis dijadikan sebagai alat tulis yaitu tempat mencatatkan semua peristiwa-peristiwa dan pandangan-pandangan penting yang pernah dialami dan dikemukakan oleh orang-orang Bugis. Jadi lontarak ialah catatan-catatan yang ditulis orang Bugis pada waktu yang telah lampau.

2. Lontarak ialah catatan-catatan yang ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan alat-alat tajam. Keterangan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Drs. Mattulada bahwa :

Lontarak itu adalah catatan-catatan yang aslinya yang ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan alat tajam, kemudian dibubuhi warna hitam pada bekas-bekas guratan tanda tajam itu. Tanda-tanda bunyi yang dipergunakan disebut juga huruf lontarak.

Prof. A. Zainal Abidin Farid, SH mengatakan :

Lontarak dalam arti luas meliputi segala macam tulisan dengan aksara Bugis-Makassar, yang lazim disebut urupuk sulapa’ eppa, yakni huruf segi empatnya itu huruf orang-orang Bugis-Makassar yang dipakai oleh mereka menulis mengenai pelbagai bidang.

Dari keterangan-keterangan tersebut dapat diketahui bahwa lontarak itu ialah tempat orang-orang Bugis mencatatkan pelbagai peristiwa dalam kehidupannya yang lahir dan tumbuh serta berkembang di dalam masyarakat Bugis dahulu kala.
Setelah kertas menggantikan daun lontarak itu sebagai alat untuk ditulis dengan menggunakan pena tau lidi ijuk yang disebut kallang, maka itu pun disebut lontarak.
Setelah agama Islam tersebar di Sulawesi Selatan, para penulisnya mempelajarai huruf Arab melalui Al Qur’an yang merupakan kitab yang wajib dibaca oleh setiap orang Islam. Perkenalan dengan huruf Arab ini membawa perubahan dalam perlontarakan di Sulawesi Selatan, yakni bertambahnya bentuk lontarak yang menggunakan huruf Arab di samping lontarak yang menggunakan aksara Bugis. Bahkan setelah agama Islam itu berpengaruh besar dalam masyarakat Bugis, orang-orang Bugis cenderung menulis ajaran-ajaran Islam itu di dalam lontarak, sehingga ditemukan beberapa lontarak yang isi seluruhnya dengan huruf dan atau bahasa Arab.
Dari keterangan-keterangan tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang disebut lontarak tidak hanya catatan-catatan yang disalin dengan aksara Bugis di atas daun lontarak, akan tetapi juga catatan-catatan yang ditulis dengan pena di atas kertas, baik yang menggunakan aksara Bugis maupun yang menggunakan huruf dan atau bahasa lain, khususnya bahasa Arab.
Seperti telah dijelaskan bahwa dalam perkembangan pertama lontarak itu, aksara yang dipergunakan ialah aksara Bugis. Akan tetapi aksara atau huruf lontarak ini telah mengalami perubahan dalam perkembangannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tau Sabbara'E

Riseddie kampong engka seddi tomatoa nappunnai dua anak makkunrai. Macoae riaseng I Muna, maloloe riaseng I Mani. I Muna mallakkai padangkang riaseng La Muhammad. I Mani mallakkai tau kasi-asi riaseng La Sabbarak. Jama-jamanna La Muhammad tuli massu ri saliweng mpanua melli barang. Tungke-tungke pole melli barang, sakke-sakke agaga naelliangngi bainena. Agana natemmaka rielorinna ri matua makkunrainna. Sibalireng ladde pole ri La Sabbarak. Nabantumi matuanna orowanena ri darek e. Engka naengka siwettu engkani La Sabbarak mallempa aga-aga pole ri darek e. Mabelamupi pole ri bolae engkani bainena I Mani lari no duppaiwi sibawa napalessona lempana. Aga nakkedanna Indokna, ’Maja laddek uwita kedona I Mani mappakkuaro, iyakkeppa daemmu papoleang lakkainna de engka naduppaiwi. Masennang maegatopo aga-aga napoleang, naia lakkaimmu mau sularak puruk, tennaulleto pakangka’. Makkedani I Mani, ’O...Indok, amaingekkik. De nawedding ripakkua padatta ripancaji. Idikmuto puelok i usiala. Jaji iyaton...

Ada Pappaseng

Pengertian Paseng dapat diartikan: (1) perintah; nasihat; permintaan (2) amanat yang disampaikan lewat orang lain, (3) perkataan; nasihat; wasiat yang terakhir. Pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasihat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan diindahkan. Pappaseng dalam bahasa Bugis mempunyai makna yang sama dengan wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng dapat pula diartikan pangaja’ yang bermakna nasihat yang berisi ajakan moral yang patut dituruti. Dalam tulisan Punagi (1983:1) dinyatakan bahwa pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa tanggung jawab. Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang Bugis zaman dahulu untuk anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik. Jadi, pappaseng adalah wasiat orang-ora...

Baca-Baca Ugi

Sumber : http://www.rappang.com/ ''Baca Mattunu Dupa'' Lapaisseng asemmu batu langi muteppa ritaue nariaseng dupa asemmu muteppa ritanae nariaseng nariaseng lapalettu, paletturengnga ri anu .......................................................................................................................... ''Baca Timpa Tange'' Utimpa tangeku upasitimpa tajanna linoe ooo puakku paompoi matanna essoe pasiomporengnga dalleku sangaddi matengngei menre matanna essoe namatengngeto dalleku........................................................................................................................ ''Baca Taro Doi'' Yarase asemmu doi lapaulle ambo indomu utaro kassaramu warekkeng alusumu nurung mattaro muhammad tambai Allah Ta'ala pabbarakkakko upasitako .... ettana sitaung welliakko anu, ucerako anu, tawana waie utang .................................................................................................................