Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

Perbedaan Bissu, Passure' dan Pallontara'

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan oleh orang-orang Bugis dalam berkomunikasi antara sesama mereka. Bahasa Bugis merupakan bahasa yang paling besar jumlah pemakainya di Sulawesi Selatan, dengan berbagai varian dan dialek. Bahasa Bugis tidak hanya digunakan di Sulawesi Selatan, tapi juga digunakan oleh orang-orang Bugis yang membangun perkampungan-perkampungan di rantau. Menurut Timothy and Barbara (1985:1), suku bangsa Bugis adalah suku bangsa yang paling banyak jumlahnya dan paling progresif di Sulawesi Selatan. Pada masa lampau bahasa Bugis digunakan untuk semua kegiatan kebudayaan orang-orang Bugis, baik dalam aktivitas keagamaan, politik, pertanian, perdagangan, maupun dalam kesusastraan. Namun bersama dengan perubahan waktu, terutama setelah tanah Bugis dilebur menjadi bagian dari Indonesia, perlahan-lahan bahasa Bugis mulai tergeser, penggunaannya digantikan oleh bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pergaulan antara etnik di Nusantara. Meskipun begitu, data ba...

Ada Pappaseng

Pengertian Paseng dapat diartikan: (1) perintah; nasihat; permintaan (2) amanat yang disampaikan lewat orang lain, (3) perkataan; nasihat; wasiat yang terakhir. Pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasihat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan diindahkan. Pappaseng dalam bahasa Bugis mempunyai makna yang sama dengan wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng dapat pula diartikan pangaja’ yang bermakna nasihat yang berisi ajakan moral yang patut dituruti. Dalam tulisan Punagi (1983:1) dinyatakan bahwa pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa tanggung jawab. Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang Bugis zaman dahulu untuk anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik. Jadi, pappaseng adalah wasiat orang-ora...

Komunikasi Verbal Dalam Elong Ugi

Elong Mate Colli atau Ongkona Bone tersusun dari syair-syair/kalimat yang menggunakan huruf lontara atau bahasa Bugis. Lagu tersebut telah disepakati sebagai lagu wajib bagi masyarakat Kabupaten Bone baik di tingkat sekolah maupun masyarakat umum. Lagu tersebut biasanya dinyanyikan dalam kegiatan seremonial seperti peringatan hari jadi Kabupaten Bone atau pada kegiatan lomba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Lagu ongkona Bone hingga saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun, jika dibedah bahasanya serta dihubungkan dengan sejarah, maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905 yaitu pada saat terjadinya perang antara kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran itu. Sepanjang pantai Teluk Bone di serang habis-habisan oleh tentara Belanda. Oleh karena persenjataan tidak seimbang, tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya kerajaan Bone inilah yang dikenal...

Budaya Kita

Aspek budaya suatu daerah dapat berfungsi sebagai faktor pendukung maupun faktor penghambat bagi kegiatan pembangunan daerah. Namun tidak demikian halnya dengan Kabupaten Bone, bahwa budaya menjadi kekuatan seperti dituturkan dalam bahasa daerah sebagai berikut : “PATUPPUI RI ADE’-E, PASANRE’I RI SARA’-E, ATTANGA’KO RI RAPANGNG-E, ASSUKE’KO GAU‘ PURALLALO-E, PATTARETTE’I RI WARI’-E, AJA’MUALAI PAPPEGAU’ GAU’ TENRI POBIASANGNG-E”, yang artinya : “ Budaya yang bersendikan adat, sandarkan kepada syara’, perhatikan sejarah, contohilah kejadian baik yang pernah terjadi, laksanakan pekerjaan sesuai tata tertibnya, dan jangan melakukan sesuatu diluar kebiasaan”. Bagi masyarakat Kabupaten Bone yang telah memiliki satu kekuatan budaya dalam tataran “WIJA TO BONE”, dengan ajaran hidup dari LA GALIGO merupakan peninggalan asset budaya yang amat dahsyat dan bersifat magis, sangat sarat dengan nilai-nilai budaya sebagai acuan dalam bersikap. Inilah milik masyarakat Bone pada umumnya berupa PA...

Nilai-Nilai Kepribadian dalam ’Elong Ugi’

A. Pendahuluan Dalam masyarakat Bugis, khususnya ketika masih eksis kerajaan-kerajaan lokal (ethnic authority), mengenal dan menjadi bagian dari tradisi mereka berpantun atau bernyanyi yang bisa disampaikan dengan pernyataan lansung atau dengan pengiasan (‘lecco-lecco ada) yang unik biasa disebut dengan Elong, sekarang lebih populer dengan nama Elong Ugi. Keunikannya, terutama pada Elong Maliung Bettuanna, karena ungkapan yang disampaikan kadang kala berisi tebakan yang memerlukan interpretasi yang cukup terliti. Jadi kalau seseorang tidak mengetahui kuncinya maka tak akan dapat mengetahuinya. Pantun-pantun itu juga sangat digemari oleh para pemuda dan pemudi yang sedang jatuh cinta, karena dapat mengungkapkan isi hatinya di tengah-tengah orang banyak kepada orang yang dicintainya tapi orang banyak tidak memahaminya. Bisa pula dengan pantun itu, seseorang mengungkapkan kebenciannya, ketidak senangannya pada pada seseorang atau penguasa tapi tidak banyak orang yang bisa mengetahuinya....

Poada-adaengngi Pangisengeng Pirasa'e

Iyanae poada-adaengngi sipa'na tauwe. Taissengngi madecengnge maja e gau'na. Narekko engka tau, worowanegi makkunraigi, iya namaega decengna, eloriwi. Iya namaega ja'na, pebelaiwi alemu koritu. Apa' makkedai nabitta, iyatu tomaupe'e, mau macilaka, maupe' mua. Naiya tomacilakae, mau maupe' macilakamui. Mula-mulanna Rekko marajai ulunna tauwe, maupe'i namatanre nawa-nawa. Madecettoi ateka'na. Narekko situju-tujui rajanna, tanra engka pangisengenna, malampe nawa-nawai. Naiya welua' maggattae namalemma tenna maumoe', pellorengngi. Gemme' situju-tujue aggattana, tanra maega gau'na ripuji. Gemme' maumpe'e aggattana namalemma', nacedde'mua,tanra masuli'i decenna. Gemme' maggattae namatojo, tanra maraja nawessui, teai risau mau toriwawona. Gemme' mallempue namawessa, tanra makuttui. Gemme' maegae namallempu namaraja gattana namatojo lotonna nakenna uwae namarelli' nakenna minynya' madecengngi. Gemme...

Motivasi Berprestasi : Reso

Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak: Aja' mumaelo' ribetta makkalla ri cappa alletennge (Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.) Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syar...

Penegakan Hukum : Siri

Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri' (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng atau peradaban) dianggap sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri. Siri' atau harga diri merupakan landasan bagi "pemimpin" untuk senantiasa menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Pemimpin yang tidak mampu menegakkan hukum dianggap pemimpin lembek atau banci. Seseorang yang tidak mempunyai Siri' diumpamakan sebagai bangkai yang berjalan. Dalam ungkapan Bugis disebutkan: Siri' emmi to riaseng tau (Hanya karena Siri'-lah kita dinamakan manusia). Itulah sebabnya mengapa para orang tua Bugis menjadikan Siri' sebagai hal yang amat penting dalam nasihat-nasihat, sebagaimana dituturkan oleh Muhammad Said sebagai berikut. Taro-taroi alemu siri' Narekko de' siri'mu inrekko siri' (Perlengkapilah dirimu de...

Tata Cara Mappettu Ada

Mappettu Ada yang baiasanya juga ditindak lanjuti dengan (mappasierekeng) atau menyimpulkan kembali kesepakatan-kesepakatan yang telah dibicarakan bersama pada proses sebelumnya. Ini sudah merupakan lamaran resmi dan biasanya disaksikan oleh keluarga dan kenalan. Pada saat inilah akan dibicarakan secara terbuka segala sesuatu terutama mengenai hal-hal yang prinsipil. Ini sangat penting karena kemudian akan diambil kesepakatan atau mufakat bersama, kemudian dikuatkan kembali keputusan tersebut (mappasierekeng). Pada kesempatan ini diserahkan oleh pihak laki-laki pattenre’ ada atau passio (“pengikat”) berupa cincin, beserta sejumlah benda simbolis lainnya, misalnya tebu, sebagai simbol sesuatu yang manis, buah nangka (Panasa) yang mengibaratkan harapan (minasa); dan lain sebagainya. Apabila waktu perkawinan akan dilaksanakan dalam waktu singkat, maka passio ini diiringi passuro mita yang diserahkan setelah pembicaraan telah disepakati. Satu lembar bahan waju tokko- Satu lembar sarung su...