Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pengetahuan Umum

Pappaseng Tomatoa

Eppai tenriulle parewe : Mula-mulanna ada pura ripassu'e ri timue Madduanna anu pura riabbereangnge, Mattellunna anu pura nakennae uki, Maeppana umuru' pura laloe De sia deceng pole ri saliweng... Kua manenni pole ritellu lappae Seuwani agi-agi mupogau' itai rimunrinna, Madduanna aja' mumacai tea/ripakainge', Maettellunna tettongiwi lempu'e mupakei sabbara'e Patampuangengngi nariseng tau maupe' : Seuwani pessu'i ada napasau, Madduanna matu ada nasitinaja, Mattellunna molai ada naparapi, Maeppana duppai ada napasau

Mengenal Aksara Lontara Bugis

Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof. Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).

Menyembunyikan Maksud Dibalik Tiga Lapis Sarung

NAMPAKNYA seperti dikatakan oleh dua baris akhir sebuah soneta Shakespeare, so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee, orang Bugis sejak lama telah menyadari signifikansi puisi. Misalnya saja dengan membuat aturan-aturan tertentu untuk memahami sebuah bait élong maliung bettuanna. Aturan-aturan khusus itulah yang membuat genre puisi ini menjadi sangat unik dan menarik. Tidak saja dalam élong maliung bettuanna, tetapi begitu banyak karya-karya penting, pendek maupun panjang, ditulis menggunakan puisi. Tak banyak peminat dan sarjana sastra yang membahas jenis puisi élong maliung bettuanna mungkin dikarenakan dua faktor penting yang sama-sama susah dipahami; matra dan archaic vocubulary yang digunakan. Secara harafiah, élong maliung bettuanna berarti ‘lagu yang dalam maknanya’ (maliung berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’). Dengan kata lain, élong ini adalah puisi dengan makna tersembunyi. Sebagaimana jenis élon...

Aturan Pemakaian Songkok Pamiring

Di atas disebut soal songkok sebagai kelengkapan berpakaian orang BUgis dan Makassar. Dan ini pun tentu saja ada aturan memakainya. Kopiah yang disebut songkok Bone ini pada umumnya dibuat dari bahan ure’cha yaitu semacam alang-alang halus. Selain itu ada pula songkok bone yang juga dibuat dari Ure’cha tetapi diselang-selingi dengan benang emas atau benang perak, dan diberi nama songkok pamiring. Dan songkok pamiring ini hanya dipakai oleh bangsawan tinggi, bangsawan sampai golongan anak ‘Cera’ dikerajaan Bugis dan golongan daeng di kerajaan Makassar. Peraturan adat pemakaian songkok pamiring bagi masyarakat Bugis dan Makassar yang berlaku pada zaman kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar masih jaya adalah sebagai berikut : Bagi bangsawan tinggi berstatus atau berkedudukan sebagai raja dari kerajaan besar dan bagi anak raja yang berasal dari keturunan Maddara Takku (berdarah biru), anak Mattola, anak Matase’, dapat menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat ari emas murni (Ulaw...

Bedah Lagu Ongkona Bone

Lagu dengan judul Ongkona Bone tersusun dari syair-syair / kalimat yang menggunakan bahasa Lontara atau bahasa Bugis. Dan telah disepakati sebagai lagu wajib bagi masyarakat Kabupaten Bone baik di tingkat sekolah maupun umum. Lagu tersebut biasanya dinyayikan dalam kegiatan seremonial Hari Jadi Bone atau pada kegiatan lomba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah baik bentuk solo maupun paduan suara. Lagu Ongkona Bone sampai saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun apabila kita membedah bahasanya serta menghubungkan dengan sejarah , maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905 yaitu pada saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran itu. Di sepanjang pantai Teluk Bone diserang habis-habisan oleh tentara Belanda. Karena persenjataan yang tidak seimbang, maka tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya Kerajaan Bone inilah yang dike...

Elong Malamung Bettuanna

Iyapa kupajaiyyo Palili to amali Lempopa ri maje Nanti aku berhenti Kampung orang Amali Setelah aku ke kubur Catatan : Di Amali Kabupaten Bone ada sebuah kampung bernama Cakkuridi yang diasosiasikan dengan kata 'riidi' artinya kepada engkau. Jadi makna pantun Bugis ini adalah Nanti aku berhenti memuji kepadamu, setelah aku ke kubur Duwami kuwala sappo Unganna panasae Belona kanuku Hanya dua dijadikan pagar Bunganya nangka Dan hiasan kuku Catatan : Unganna panasae (bunga nangka) orang Bugis menamakannya 'lempu' dalam bahasa Indonesia artinya kejujuran. Sedangkan belona kanukue (hiasan kuku), orang Bugis dimasa lampau menggunakan daun pacar sebagai pemerah kuku yang dinamakannya 'pacci', diasosiasikan dengan kata 'paccing' yang dalam bahasa Indonesia artinya bersih atau suci. Jadi pantun Bugis ini bermakna Hanya dua kujadikan pagar diri, kejujuran dan kesucian. Aja mumasero teya Nasikkoddoang ngao Melle' marimunri Jangan terlalu menolak Siapa tau seper...