Langsung ke konten utama

Postingan

Pappaseng Tomatoa

Eppai tenriulle parewe : Mula-mulanna ada pura ripassu'e ri timue Madduanna anu pura riabbereangnge, Mattellunna anu pura nakennae uki, Maeppana umuru' pura laloe De sia deceng pole ri saliweng... Kua manenni pole ritellu lappae Seuwani agi-agi mupogau' itai rimunrinna, Madduanna aja' mumacai tea/ripakainge', Maettellunna tettongiwi lempu'e mupakei sabbara'e Patampuangengngi nariseng tau maupe' : Seuwani pessu'i ada napasau, Madduanna matu ada nasitinaja, Mattellunna molai ada naparapi, Maeppana duppai ada napasau

Nilai-Nilai Kepribadian dalam ’Elong Ugi’

A. Pendahuluan Dalam masyarakat Bugis, khususnya ketika masih eksis kerajaan-kerajaan lokal (ethnic authority), mengenal dan menjadi bagian dari tradisi mereka berpantun atau bernyanyi yang bisa disampaikan dengan pernyataan lansung atau dengan pengiasan (‘lecco-lecco ada) yang unik biasa disebut dengan Elong, sekarang lebih populer dengan nama Elong Ugi. Keunikannya, terutama pada Elong Maliung Bettuanna, karena ungkapan yang disampaikan kadang kala berisi tebakan yang memerlukan interpretasi yang cukup terliti. Jadi kalau seseorang tidak mengetahui kuncinya maka tak akan dapat mengetahuinya. Pantun-pantun itu juga sangat digemari oleh para pemuda dan pemudi yang sedang jatuh cinta, karena dapat mengungkapkan isi hatinya di tengah-tengah orang banyak kepada orang yang dicintainya tapi orang banyak tidak memahaminya. Bisa pula dengan pantun itu, seseorang mengungkapkan kebenciannya, ketidak senangannya pada pada seseorang atau penguasa tapi tidak banyak orang yang bisa mengetahuinya....

Bunga Wellu

Dahulu kala ada seorang raja yang sangat masyhur di negerinya. Raja ini tiga bersaudara, yang tua memerintah di negeri Matahari Terbit, yang bungsu memerintah di negeri Matahari Terbenam. Sedangkan raja yang masyhur ini memerintah di negeri pusat bumi. Raja Pusat Bumi ini mempunyai dua orang putri yang sangat cantik, yang tua bernama Bunga Cibollo – Bunga Sekuntum – sedangkan yang bungsu bernama Bunga Wellu’ – Bunga Halus. Pada suatu hari, raja Pusat Bumi berpesan kepada kedua putrinya: “Wahai anakku, bila nanti ajalku tiba, engkau Bunga Cibollo, pergilah ke negeri Matahari Terbit, dimana pamanmu memerintah. Sedang engkau Bunga Wellu’, pergilah ke negeri Matahari Terbenam, di sana pula pamanmu memerintah”. Tidak lama kemudian setelah berpesan kepada kedua putrinya, raja Pusat Bumi pun mangkat. Kedua putrinya menjadi yatim piatu, karena ibundanya telah lama pula meninggal. Konon raja Pusat Bumi ini memiliki saudara tiri yang memerintah di negeri Jawa. Mengetahui raja Pusat Bumi mangkat,...

Poada-adaengngi Pangisengeng Pirasa'e

Iyanae poada-adaengngi sipa'na tauwe. Taissengngi madecengnge maja e gau'na. Narekko engka tau, worowanegi makkunraigi, iya namaega decengna, eloriwi. Iya namaega ja'na, pebelaiwi alemu koritu. Apa' makkedai nabitta, iyatu tomaupe'e, mau macilaka, maupe' mua. Naiya tomacilakae, mau maupe' macilakamui. Mula-mulanna Rekko marajai ulunna tauwe, maupe'i namatanre nawa-nawa. Madecettoi ateka'na. Narekko situju-tujui rajanna, tanra engka pangisengenna, malampe nawa-nawai. Naiya welua' maggattae namalemma tenna maumoe', pellorengngi. Gemme' situju-tujue aggattana, tanra maega gau'na ripuji. Gemme' maumpe'e aggattana namalemma', nacedde'mua,tanra masuli'i decenna. Gemme' maggattae namatojo, tanra maraja nawessui, teai risau mau toriwawona. Gemme' mallempue namawessa, tanra makuttui. Gemme' maegae namallempu namaraja gattana namatojo lotonna nakenna uwae namarelli' nakenna minynya' madecengngi. Gemme...

Mengenal Aksara Lontara Bugis

Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof. Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).

Menyembunyikan Maksud Dibalik Tiga Lapis Sarung

NAMPAKNYA seperti dikatakan oleh dua baris akhir sebuah soneta Shakespeare, so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee, orang Bugis sejak lama telah menyadari signifikansi puisi. Misalnya saja dengan membuat aturan-aturan tertentu untuk memahami sebuah bait élong maliung bettuanna. Aturan-aturan khusus itulah yang membuat genre puisi ini menjadi sangat unik dan menarik. Tidak saja dalam élong maliung bettuanna, tetapi begitu banyak karya-karya penting, pendek maupun panjang, ditulis menggunakan puisi. Tak banyak peminat dan sarjana sastra yang membahas jenis puisi élong maliung bettuanna mungkin dikarenakan dua faktor penting yang sama-sama susah dipahami; matra dan archaic vocubulary yang digunakan. Secara harafiah, élong maliung bettuanna berarti ‘lagu yang dalam maknanya’ (maliung berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’). Dengan kata lain, élong ini adalah puisi dengan makna tersembunyi. Sebagaimana jenis élon...

Motivasi Berprestasi : Reso

Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak: Aja' mumaelo' ribetta makkalla ri cappa alletennge (Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.) Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syar...