Langsung ke konten utama

Bunga Wellu

Dahulu kala ada seorang raja yang sangat masyhur di negerinya. Raja ini tiga bersaudara, yang tua memerintah di negeri Matahari Terbit, yang bungsu memerintah di negeri Matahari Terbenam. Sedangkan raja yang masyhur ini memerintah di negeri pusat bumi. Raja Pusat Bumi ini mempunyai dua orang putri yang sangat cantik, yang tua bernama Bunga Cibollo – Bunga Sekuntum – sedangkan yang bungsu bernama Bunga Wellu’ – Bunga Halus. Pada suatu hari, raja Pusat Bumi berpesan kepada kedua putrinya:
“Wahai anakku, bila nanti ajalku tiba, engkau Bunga Cibollo, pergilah ke negeri Matahari Terbit, dimana pamanmu memerintah. Sedang engkau Bunga Wellu’, pergilah ke negeri Matahari Terbenam, di sana pula pamanmu memerintah”.
Tidak lama kemudian setelah berpesan kepada kedua putrinya, raja Pusat Bumi pun mangkat. Kedua putrinya menjadi yatim piatu, karena ibundanya telah lama pula meninggal.
Konon raja Pusat Bumi ini memiliki saudara tiri yang memerintah di negeri Jawa. Mengetahui raja Pusat Bumi mangkat, saudara tirinya itu datang ke negeri Pusat Bumi untuk mengambil semua harta benda milik saudara tirinya, raja Pusat Bumi. Sesampainya di istana, dirampasnyalah semua harta benda yang ada. Untung kedua putri raja Pusat Bumi tersebut menyembunyikan sebakul emas di bawah dapur. Ketika raja Jawa menanyakan apa isi bakul di bawah dapur itu, Bunga Wellu’ menjawab, bahwa hanyalah kerak-kerak nasi yang telah dikeringkan. Dengan demikian emas yang banyak itu tidak diambilnya.
Bunga Cibollo dan Bunga Wellu’ kemudian meninggalkan istana dan pergi mencari negeri Matahari Terbit dan negeri Matahari Terbenam sesuai pesan ayahanda mereka. Dilewatinya tujuh gunung dan tujuh padang luas, akhirnya sampai pada sebuah persimpangan jalan. Lalu mereka mengambil arah yang berbeda. Bunga Cibollo menuju ke arah negeri Matahari Terbit, sedangkan Bunga Wellu’ melangkah menuju negeri Matahari Terbenam.
Tetapi baru tiga langkah berjalan, mereka kembali saling berpelukan. Berkatalah Bunga Wellu’ kepada kakaknya;
“Kakakku Bunga Cibollo, sejak kecil kita hidup bersama, mengapa setelah dewasa, kita harus berpisah?”. Keduanya menangis memikirkan nasib mereka.
Tiba-tiba terdengar suara;
“Wahai Bunga Cibollo dan Bunga Wellu’ pergilah engkau mengikuti pesan ayahandamu. Engkau, Bunga Cibollo melangkahlah ke arah timur, dan engkau Bunga Wellu’ melangkahlah ke arah barat”.
Lalu keduanya mengikuti perintah suara tersebut. Bunga Cibollo cepat mendapatkan negeri Matahari Terbit, sementara Bunga Wellu’ terlunta-lunta dan tidak menemukan negeri Matahari Terbenam yang hendak ditujunya. Ia pun mengikuti orang-orang yang lewat, tapi ternyata orang-orang yang diikutinya itu hendak ke pasar. Dan tanpa disadarinya, pasar itu ternyata masuk wilayah kerajaan negeri Matahari terbenam.
Sesampai di pasar, Bunga Wellu’ teringat, bahwa dalam bakul yang dijunjungnya di samping berisi emas, bakul itu juga berisi kemenyan. Dikeluarkannyalah kemenyan tersebut untuk dijualnya. Tiba-tiba datang putra raja penguasa negeri itu yang bernama La Baso untuk membeli kemenyan. Didapatinya Bunga Wellu’ sedang menghadapi kemenyan dagangannya;
“Hai, Indo’ Pasa’, berapa harga kemenyanmu itu ?”.
“Satu tali, puang”.
La Baso ternyata mengambil saja kemenyan itu tanpa membayar dan berlalu pergi. Tapi Bunga Wellu’ mengikutinya sampai di istana. Sampai di depan pintu istana, ia dicegat oleh ibu asuh La Baso dan mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Ibu asuh itu berkata;
“Orang yang tidak dikenal, dilarang memasuki istana. Jadi tinggallah di rumah Saya”.
Beberapa hari kemudian, La Baso jalan-jalan ke rumah ibu asuhnya. Didapatinya seorang wanita cantik, dan setelah La Baso tahu, jika wanita cantik itu, adalah Indo’ Pasa’ yang pernah diambil kemenyannya, La Baso lalu merasa kasihan dan jatuh hati. La Baso lalu berkeinginan untuk menikahi Indo’ Pasa’, walau ia telah dipertunangkan dengan Besse Jawa, yaitu anak dari saudara tiri ayahanda Bunga Wellu yang memerintah di negeri Jawa.
Belum cukup satu tahun pernikahan antara La Baso dengan Indo’ Pasa’ – nama lain Bunga Wellu – datang pula utusan raja Jawa untuk meminta La Baso, agar pergi menikahi anaknya. Karena La Baso tidak mau menikahi Besse Jawa, maka ayahandanya – raja Jawa – pun murka, sehingga terjadi perang antara kerajaan negeri Jawa dengan kerajaan negeri Matahari Terbenam. Dalam keadaan demikian, dengan terpaksa, La Baso menuruti keinginan raja Jawa untuk menikahi anaknya, Besse Jawa. Tetapi sebelumnya, La Baso berpesan kepada istrinya, Indo’ Pasa’ yang tak lain adalah sepupunya sendiri, Bunga Wellu – keduanya hanya tidak menyadari kalau mereka bersepupu – untuk mengikutinya.
Ketika pesta pernikahan berlangsung, para tamu disuguhi sirih dan pinang, termasuk Indo’ Pasa’ yang mengikuti La Baso. Pada saat Indo’ Pasa’ mengupas pinang, tiba-tiba tangannya teriris pisau, dan darahnya terpercik yang mengenai mata Besse Jawa yang sedang duduk bersanding dengan La Baso. Karena merasa malu, Indo’ Pasa’ beranjak pergi meninggalkan tempat. La Baso mengikutinya tanpa menghiraukan Besse Jawa. Tapi ini disalah-fahami oleh raja Jawa, ia merasa dipermalukan oleh La Baso. Kejadian ini membuat raja Jawa sangat murka. Dikerahkannya seluruh prajuritnya untuk menggempur kerajaan Matahari Terbenam. Raja Matahari Terbenam juga marah terhadap anaknya, La Baso yang tidak mengikuti keinginannya. Lalu didatanginya rumah La Baso dan di sana ia mendapati seorang bayi mungil yang diperlengkapi dengan emas yang banyak.
Sang raja pun kemudian bertanya kepada Indo’ Pasa’, perihal emas-emas yang banyak itu. Indo’ Pasa’ kemudian menjelaskan, bahwa emas-emas itu, adalah pusaka dari ayahandanya, yaitu raja Pusat Bumi. Barulah raja Matahari Terbenam mengetahui, kalau Indo’ Pasa’ itu adalah kemanakannya sendiri dan bayi yang mungil itu adalah cucunya.
Karena sang raja Matahari Terbenam telah mengetahui, bahwa putranya, La Baso sesungguhnya telah memiliki istri dan istrinya itu, tidak lain adalah sepupunya sendiri, putri saudaranya, raja Pusat Bumi. Maka itu, ia berbalik melawan raja negeri Jawa. Terjadilah perang dahsyat antara kerajaan negeri Jawa dengan kerajaan negeri Matahari Terbenam. Dalam perang dahsyat tersebut, raja negeri Jawa yang dikenal serakah itu gugur, begipula dengan seluruh prajuritnya. Sementara itu, Besse Jawa menjadi buta, tuli dan pincang akibat terkena percikan darah Indo’ Pasa’ alias Bunga Wellu’ pada pesta pernikahannya yang gagal dengan La Baso.

Komentar

WHITEBASE mengatakan…
bunga wellu itu siapa? nenek saya namanya bunga wellu?

Postingan populer dari blog ini

Tau Sabbara'E

Riseddie kampong engka seddi tomatoa nappunnai dua anak makkunrai. Macoae riaseng I Muna, maloloe riaseng I Mani. I Muna mallakkai padangkang riaseng La Muhammad. I Mani mallakkai tau kasi-asi riaseng La Sabbarak. Jama-jamanna La Muhammad tuli massu ri saliweng mpanua melli barang. Tungke-tungke pole melli barang, sakke-sakke agaga naelliangngi bainena. Agana natemmaka rielorinna ri matua makkunrainna. Sibalireng ladde pole ri La Sabbarak. Nabantumi matuanna orowanena ri darek e. Engka naengka siwettu engkani La Sabbarak mallempa aga-aga pole ri darek e. Mabelamupi pole ri bolae engkani bainena I Mani lari no duppaiwi sibawa napalessona lempana. Aga nakkedanna Indokna, ’Maja laddek uwita kedona I Mani mappakkuaro, iyakkeppa daemmu papoleang lakkainna de engka naduppaiwi. Masennang maegatopo aga-aga napoleang, naia lakkaimmu mau sularak puruk, tennaulleto pakangka’. Makkedani I Mani, ’O...Indok, amaingekkik. De nawedding ripakkua padatta ripancaji. Idikmuto puelok i usiala. Jaji iyaton...

Ada Pappaseng

Pengertian Paseng dapat diartikan: (1) perintah; nasihat; permintaan (2) amanat yang disampaikan lewat orang lain, (3) perkataan; nasihat; wasiat yang terakhir. Pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasihat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan diindahkan. Pappaseng dalam bahasa Bugis mempunyai makna yang sama dengan wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng dapat pula diartikan pangaja’ yang bermakna nasihat yang berisi ajakan moral yang patut dituruti. Dalam tulisan Punagi (1983:1) dinyatakan bahwa pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa tanggung jawab. Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang Bugis zaman dahulu untuk anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik. Jadi, pappaseng adalah wasiat orang-ora...

Baca-Baca Ugi

Sumber : http://www.rappang.com/ ''Baca Mattunu Dupa'' Lapaisseng asemmu batu langi muteppa ritaue nariaseng dupa asemmu muteppa ritanae nariaseng nariaseng lapalettu, paletturengnga ri anu .......................................................................................................................... ''Baca Timpa Tange'' Utimpa tangeku upasitimpa tajanna linoe ooo puakku paompoi matanna essoe pasiomporengnga dalleku sangaddi matengngei menre matanna essoe namatengngeto dalleku........................................................................................................................ ''Baca Taro Doi'' Yarase asemmu doi lapaulle ambo indomu utaro kassaramu warekkeng alusumu nurung mattaro muhammad tambai Allah Ta'ala pabbarakkakko upasitako .... ettana sitaung welliakko anu, ucerako anu, tawana waie utang .................................................................................................................