Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

Goa Mampu Legenda Terkutuk

Goa Mampu adalah gua terluas di Sulawesi Selatan, legenda gua Mampu ini jauhnya kira-kira 140 km dari kota Makassar dalam penambahan untuk stalagmites dan stalagtites terdapat susunan batu yang mirip dengan sosok manusia dan binatang, semuanya memiliki legenda yang nyata. Gua yang terletak di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini, tidak hanya sekedar gua. Terlebih buat masyarakat di sekitar Gua Mampu, demikian nama gua ini. Gua Mampu, sarat dengan cerita legenda yang begitu dipercaya. Gua Mampu yang luasnya sekitar 2000 meter persegi, terletak di Desa Cabbeng, Kecamatan Dua Boccoe, yang berjarak 34 kilometer dari Watampone, ibukota Kabupaten Bone. Legenda Alleborenge Ri Mampu, yang berkembang seputar gua, diyakini secara turun-temurun, sebagai suatu kebenaran. Konon, di Gua Mampu ini pernah berdiri Kerajaan Mampu. Namun karena kutukan dewa, penghuni kerajaan ini, termasuk binatang dan benda-benda lainnya berubah menjadi batu. Bongkahan batu yang mirip manusia, binatang, dan lainnya, mem...

Konsep Sarung

Konon, konsep sarung merupakan sejenis perilaku atau kebiasaan yang diterapkan oleh sebagian raja-raja atau masyarakat tempo dulu dalam membina rumah tangganya. Mengapa disebut konsep sarung ? karena berhubungan dengan sarung. Ada apa di dalam sarung ? Jawab sendiri deh. Konsep ini erat hubungannya dengan lelaki dan kelaki-lakiannya. Mengapa Cuma lelaki, apa perempuan nggak dapat ? Karena lelakilah yang memiliki keperkasaan yang disebut Mister P untuk memberikan pelayanan kepada Nona V. Sebenarnya keduanya ada saling kerjasama yang sulit dipisahkan Tuan P dengan Nona V. Dahulu, leluhur kita khususnya laki-laki hingga sekarang ini dalam masyarakat Bugis sebagian (red.) apabila sedang di rumah maka celana yang dipakainya diganti dengan sarung. Karena celana yang merupakan rumah idaman Tuan P kadang membuat tidak enak baginya. Karena merasa dikarangkeng dan tidak dapat bergerak bebas apalagi kalau celana tersebut sangat sempit. Beliau tidak mendapatkan udara segar padahal kepingin juga me...

Aturan Pemakaian Songkok Pamiring

Di atas disebut soal songkok sebagai kelengkapan berpakaian orang BUgis dan Makassar. Dan ini pun tentu saja ada aturan memakainya. Kopiah yang disebut songkok Bone ini pada umumnya dibuat dari bahan ure’cha yaitu semacam alang-alang halus. Selain itu ada pula songkok bone yang juga dibuat dari Ure’cha tetapi diselang-selingi dengan benang emas atau benang perak, dan diberi nama songkok pamiring. Dan songkok pamiring ini hanya dipakai oleh bangsawan tinggi, bangsawan sampai golongan anak ‘Cera’ dikerajaan Bugis dan golongan daeng di kerajaan Makassar. Peraturan adat pemakaian songkok pamiring bagi masyarakat Bugis dan Makassar yang berlaku pada zaman kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar masih jaya adalah sebagai berikut : Bagi bangsawan tinggi berstatus atau berkedudukan sebagai raja dari kerajaan besar dan bagi anak raja yang berasal dari keturunan Maddara Takku (berdarah biru), anak Mattola, anak Matase’, dapat menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat ari emas murni (Ulaw...

Bedah Lagu Ongkona Bone

Lagu dengan judul Ongkona Bone tersusun dari syair-syair / kalimat yang menggunakan bahasa Lontara atau bahasa Bugis. Dan telah disepakati sebagai lagu wajib bagi masyarakat Kabupaten Bone baik di tingkat sekolah maupun umum. Lagu tersebut biasanya dinyayikan dalam kegiatan seremonial Hari Jadi Bone atau pada kegiatan lomba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah baik bentuk solo maupun paduan suara. Lagu Ongkona Bone sampai saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun apabila kita membedah bahasanya serta menghubungkan dengan sejarah , maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905 yaitu pada saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran itu. Di sepanjang pantai Teluk Bone diserang habis-habisan oleh tentara Belanda. Karena persenjataan yang tidak seimbang, maka tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya Kerajaan Bone inilah yang dike...

Macca na Malempu

Macca na Malempu. Rangkaian kata di atas dikutip dari naskah bugis kuno. Rangkaian kata itu berarti pintar dan jujur. Macca(=pintar) Na(=dan) Malempu(=jujur) adalah prasyarat seseorang untuk diangkat menjadi pemimpin. Macca adalah sesuatu yang harus dimiliki setiap orang. Macca dapat diperoleh dengan terus-menerus belajar. Belajar sejak ia lahir hingga akhir hayatnya. belajar haruslah menjadi perilaku sepanjang hayat. Dengan terus menerus belajar seseorang akan selalu terbarui pengetahuannya, hal yang akan membuat ia selalu siap menghadapi perubahan zaman. Belajar akan membuat seseorang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. mana yang pantas mana yang tidak pantas, mana yang sopan mana yang kasar. Seorang yang berpengetahuan (Macca) adalah orang dengan segudang akal yang akan membuat ia lolos dari jebakan, lolos dari perangkap, dan sampai di tujuan. Macca akan memberi seseorang modal untuk mengupayakan apa yang dicita-citakannya. Malempu adalah syarat kedua menjadi pemimp...

Warani na Magetteng

Warani na Magetteng adalah dua sifat yang benar-benar harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat menjalankan pemerintahan secara berwibawa. sikap warani artinya berani, artinya tidak takut dengan siapapun kecuali terhadap Dewata Seuwae. Hanya Allah SWT yang ditakutinya. yang lain tidak. Sikap Warani menyiratkan kemandirian. kemandirian untuk bertindak dan tidak dibawah bayang-bayang orang lain. sikap warani berarti memiliki keyakinan diri dan kepercayaan diri yang kuat. memiliki karakter yang membedakannya dengan orang lain. memiliki keteguhan melaksanakan apa yang menurutnya baik. apa yang menurut pengetahuannya yang terbaik akan dengan berani dilaksanakannya tanpa takut konsekwensinya. tentu dengan penegtahuan yang luas akan menuntunnya memperoleh solusi terbaik. solusi yang mungkin pahit tetapi adalah yang terbaik. dan ia berani mengambil langkah itu. Warani mestilah diikuti dengan sikap getteng. sikap tegas, teguh dan konsisten. ibarat benang jika digetteng akan membentuk gari...

Sipakatu, Sipakalebbi dan Sipakainge

Macca Na Malempu, Warani na Magetteng telah dibahas dalam 2 tulisan sebelumnya. 4 sifat tersebut adalah 4 sifat yang akan menyempurnakan pribadi setiap manusia bugis. 4 sifat tersebut akan membuat kualitas seseorang secara individu sebagai indidividu sempurna. namun dalam praktek manusia sebagai mahluk sosial, ia perlu bergaul dan dan berinteraksi dengan manusia lain. untuk itulah 3 sifat diatas menjadi pedoman dalam berinteraksi sesama manusia. Sifat pertama adalah sipakatau, adalah konsep yang memandang setiap manusia sebagai manusia. seorang manusia bugis hendaklah memperlakukan siapapun sebagai manusia seutuhnya, sehingga tidaklah pantas memperlakukan orang lain diluar perlakuan yang pantas bagi manusia. konsep ini memandang manusia dengan segala penghargaannya. siapapun dia dengan kondisi sosial apapun dia, dengan kondisi fisik apapun dia, dia pantas diperlakukan selayaknya manusia. seorang manusia bugis memperlakukan manusia lainnya dengan segala hak-hak yang melekat pada setiap ...

Elong Malamung Bettuanna

Iyapa kupajaiyyo Palili to amali Lempopa ri maje Nanti aku berhenti Kampung orang Amali Setelah aku ke kubur Catatan : Di Amali Kabupaten Bone ada sebuah kampung bernama Cakkuridi yang diasosiasikan dengan kata 'riidi' artinya kepada engkau. Jadi makna pantun Bugis ini adalah Nanti aku berhenti memuji kepadamu, setelah aku ke kubur Duwami kuwala sappo Unganna panasae Belona kanuku Hanya dua dijadikan pagar Bunganya nangka Dan hiasan kuku Catatan : Unganna panasae (bunga nangka) orang Bugis menamakannya 'lempu' dalam bahasa Indonesia artinya kejujuran. Sedangkan belona kanukue (hiasan kuku), orang Bugis dimasa lampau menggunakan daun pacar sebagai pemerah kuku yang dinamakannya 'pacci', diasosiasikan dengan kata 'paccing' yang dalam bahasa Indonesia artinya bersih atau suci. Jadi pantun Bugis ini bermakna Hanya dua kujadikan pagar diri, kejujuran dan kesucian. Aja mumasero teya Nasikkoddoang ngao Melle' marimunri Jangan terlalu menolak Siapa tau seper...

Waju Bodo / Waju Tokko'

Baju bodo adalah baju adat Bugis-Makassar yang dikenakan oleh perempuan. Sedangkan Lipa’ sabbe adalah sarung sutra, biasanya bercorak kotak dan dipakai sebagai bawahan baju bodo. Konon dahulu kala, ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya. 1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun. 2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun. 3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun. 4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun. 5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan 6. Warna ungu dipakai oleh para janda. Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, misalnya pada pesta pernikahan. Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman. Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busa...

Songkok To Bone

Songkok Recca’ terbuat dari serat pelepah daun lontar dengan cara dipukul-pukul (dalam bahasa Bugis : direcca-recca) pelepah daun lontar tersebut hingga yang tersisa hanya seratnya. Serat ini biasanya berwarna putih, akan tetapi setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. Untuk mengubah menjadi hitam maka serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari. Jadi serat yang berwarna hitam itu bukanlah karena sengaja diberi pewarna sehingga menjadi hitam. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar pula tergantung pesanan. Untuk menganyam serat menjadi songkok menggunakan acuan yang disebut Assareng yang terbuat dari kayu nangka kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yang digunakan untuk merangkai serat hingga menjadi songkok. Ukuran Assareng terga...

Baca-Baca Ugi

Sumber : http://www.rappang.com/ ''Baca Mattunu Dupa'' Lapaisseng asemmu batu langi muteppa ritaue nariaseng dupa asemmu muteppa ritanae nariaseng nariaseng lapalettu, paletturengnga ri anu .......................................................................................................................... ''Baca Timpa Tange'' Utimpa tangeku upasitimpa tajanna linoe ooo puakku paompoi matanna essoe pasiomporengnga dalleku sangaddi matengngei menre matanna essoe namatengngeto dalleku........................................................................................................................ ''Baca Taro Doi'' Yarase asemmu doi lapaulle ambo indomu utaro kassaramu warekkeng alusumu nurung mattaro muhammad tambai Allah Ta'ala pabbarakkakko upasitako .... ettana sitaung welliakko anu, ucerako anu, tawana waie utang .................................................................................................................

Upacara Adat Mappacci

Upacara adat mappacci dilaksanakan pada waktu tudampenni, menjelang acara akad nikah/ijab kabul keesokan harinya. Upacara mappacci adalah salah satu upacara adat Bugis yang dalam pelaksanaannya menggunakan daun pacar (Lawsania alba), atau Pacci. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan biasanya dilakukan dulu dengan mappanré temme (khatam Al-Quran) dan barazanji. Daun pacci ini dikaitkan dengan kata paccing yang makananya adalah kebersihan dan kesucian. Dengan demikian pelaksanaan mappacci mengandung makna akan kebersihan raga dan kesucian jiwa. Sebagaimana yang tertera dalam ungkapan bahasa Bugis yang mengatakan bahwa: Mappacci iyanaritu gau’ ripakkéonroi nallari ade’, mancaji gau’ mabbiasa, tampu’ sennu-sennuang, ri nia’ akkatta madécéng mammuaréi naiyya nalétéi pammasé Déwata Séuwaé Adapun urutan dan tata cara mappacci adalah sebagai berikut: Sebelum acara mappacci dimulai, biasanya dilakukan padduppa (penjemputan) mempelai. Calon mempelai dipersilakan oleh Protokol atau juru bicara keluar...

Upacara Adat Kematian

Sumber : http://pangkep.go.id/ Upacara Adat Kematian (Ammateang) dalam adat Bugis Makassar merupakan upacara yang dilaksanakan masyarakat Bugis Makasar saat ada seseorang dalam suatu kampung meninggal, maka keluarga, kerabat dekat maupun kerabat jauh, juga masyarakat sekitar lingkungan rumah orang yang meninggal itu berbondong – bondong menjenguknya. Pelayat yang hadir biasanya membawa sidekka (Sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan) berupa barang atau kebutuhan untuk mengurus mayat. Mayat belum mulai diurus seperti dimandikan sebelum semua anggota terdekatnya hadir. Nanti keluarga terdekatnya hadir semua, barulah mayat dimandikan, yang umumnya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang biasa memandikan mayat atau oleh anggota kelurganya sendiri. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika memandikan mayat, yaitu pajenekang ( menyiramkan air ke tubuh mayat diiringi pembacaan do’a dan tahlil), pasuina ( menggosok bagian-bagian tubuh mayat), Pabbisina (membersihkan anus dan ke...

Upacara Adat Menre Bola

Sumber : http://pangkep.go.id Perwujudan konsep makro-kosmos terlihat pada rumah tempat tinggal orang bugis dan makasar yang selalu terdiri atas tiga bagian.Bagian atas rumah disebut rekkeang dan biasa di isi dengan padi atau hasil panen lainnya.Bagian tengah biasa disebut ale bola yang dihuni oleh manusia.bagian tengah disebut awa sao (awa bola) yang biasa dipakai untuk memelihara binatang ternak.Jika dalam konsep tentang alam ada kepercayaan tentang pusat dunia atas serta pusat dunia tengah yang di sebut possi langi dan possi tana, pada rumah pun ada pusat rumah yang di sebut possi bola.yaitu salah satu tiang yang kedua dari depan dan terletak di samping kanan.itu pula sebabnya mengapa pada upacara adat menre baruga (menre bola), sesajen-sesajen yang seringkali diletakan di “Possi bola” karena di situlah roh-roh atau makluk gaib dianggap berkumpul, terutama jika ada kejadian dan peristiwa khusus dalam keluarga.

Upacara Adat Massunna

Sumber : http://pangkep.go.id/ Upacara Appasunna (Khitanan Adat) di pangkep dikenal dua versi (H Djamaluddin Hatibu dkk, 1992) dikenal 2 versi, yaitu versi pertama, dengan urutan sebagai berikut : * Menre Baruga * Mammata-mata * Allekke Je’ne * Appassili * Nipasintinggi Bulaeng dan Nipasalingi * Appamatta * Khitanan (Nisunna) Pada upacara khitanan adat versi pertama, acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan kedua karena sesudah acara menre baruga dapat sekaligus dilangsungkan acara mammata-mata mengingat pada acara menre baruga, anak yang akan di sunat bersama orang tua dan keluarganya telah duduk di lamming (pelaminan) dalam baruga, dan pada acara ini pula ditampilkan acara kesenian meski pelaksanaannya dilakukan pada siang hari. Pada versi kedua, acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan keenam dan dilaksanakan pada malam hari dengan dirangkaikan malam ramah tamah. Lengkapnya versi kedua dengan urutan acara sebagai berikut : * Menre Baruga *...